IKHLAS adalah perasaan yang biasa-biasa saja ketika mendapatkan pujian maupun hinaan dari manusia mengenai sesuatu yang kita lakukan. Ikhlas juga dapat diartikan segala sesuatu yang kita lakukan semata-mata hanya untuk Allah Swt. Ikhlas sendiri bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan. Pada saat ini ikhlas merupakan barang langka, kecuali bagi mereka yang dirahmati Allah Swt.
Imam Ibnul Mulaqqin rahimahullah berkata, “Mengikhlaskan niat untuk Allah ta’ala senantiasa menjadi syari’at/ajaran semenjak masa-masa umat sebelum kita dan kemudian dilanjutkan di masa kita yang datang sesudah mereka.
Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Allah mensyariatkan untuk kalian agama sebagaimana apa yang telah diwasiatkan kepada Nuh.”(QS. Asy-Syura: 13). Abul ‘Aliyah menafsirkan, “Allah mewasiatkan kepada mereka untuk ikhlas kepada Allah ta’ala dan beribadah kepada-Nya yang tidak ada sekutu bagi-Nya”…(lihatal-I’lam bi Fawa’id ‘Umdah al-Ahkam Jilid 1 hal. 164)
“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus.”
(QS. Al-Bayyinah: 5)
Untuk mencapai tingkat keikhlasan, kita membutuhkan kesungguhan dan latihan yang terus-menerus (mujahadah) dalam setiap amal perbuatan.
Segala perbuatan yang telah ternodai dengan riya atau mencari kemasyuhran, maka sesungguhnya sikap itu hanya akan mendatangkan kesia-siaan. Karena Allah menilai sesuatu yang kita kerjakan dari niatnya. Seseorang yang menempatkan tujuannya selain kepada Allah, itu menandakan bahwa ada yang salah dengan hati dan keimanannya.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya setiap amalan itu dinilai dengan niatnya. Dan bagi setiap orang akan mendapatkan balasan sebagaimana apa yang dia niatkan. Barangsiapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan barangsiapa yang hijrahnya kepada dunia yang ingin dia dapatkan atau karena wanita yang ingin dia nikahi, maka hijrahnya hanyalah kepada apa yang dia niatkan.” (HR. Bukhari dan Muslim dari ‘Umar bin al-Khaththab radhiyallahu’anhu)
Ikhlas merupakan salah satu diantara dua syarat diterimanya amalan. Sebab amalan yang diterima di sisi Allah adalah yang ikhlas dan sesuai dengan tuntunan. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Maka barangsiapa yang mengharapkan perjumpaan dengan Rabbnya, hendaklah dia melakukan amal salih dan tidak mempersekutukan dalam beribadah kepada Rabbnya dengan sesuatu apapun.” (QS. Al-Kahfi: 110)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang melakukan suatu amalan yang tidak ada dasar perintah/ajarannya dari kami, maka amal itu pasti tertolak.” (HR. Muslim dari ‘Aisyah radhiyallahu’anha)
Maka barang siapa yang mendambakan keselamatan di dunia dan di akhirat, maka hendaknya ia bersikap ikhlas dan terus-menerus mengawasi niatnya, karena dengan sikap ikhlas hanya kepada Allah ta'ala segala pekerjaan dapat menjadi amal ibadah, "insya Allah". Karena sesungguhnya kurang ikhlas dalam beribadah termasuk kedalam salah satu penyebab lemahnya iman.
Wallahu a’lam...

No comments:
Post a Comment